Seperti Inilah Ajaran Islam Yang Sesuai Dengan Hadits.

Seperti Inilah Ajaran Islam Yang Sesuai Dengan Hadits.

beritapolitikni.com – Hadits sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Quran, yang fungsinya untuk memberi petunjuk bagi kehidupan umat manusia. Sesuatu hal yang tidak ada di dalam Al-Quran, maka akan diperjelas secara gambling oleh sebuah hadits. Sebab, pada dasarnya hadits ini merupakan perkatan, ajaran, dan perbuatan Rasulullah SAW. Dalam ilmu hadits telah menyita perhatian para ulama sejak awal perkembangan Islam hingga sampai saat ini, bahkan khazanah Islam lebih banyak dipenuhi kitab-kitab hadits ketimbang kitab tafsir. Itu artinya, hadits atau sunnah memang memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam yang sesuai. 

Sebagai seorang Muslimin, tentunya kita harus mengetahui mana hadits yang shahih dan mana hadits yang tidak shahih. Nah, untuk mengetahui kedudukan atau martabat suatu hadits di mata hukum ajaran islam yang sesuai yang selanjutnya dari hadits tersebut mengenai bagaimana dapatnya dijadikan sebagai landasan hukum, maka harus dipahami tentang keadaan suatu hadits baik dari sifat perawinya, sanadnya, hingga matan dari hadits itu sendiri. 

Rumusan Masalah

Apa saja macam hadits dari sisi kualitas?

Bagaimana pengertian dari hadits-hadits itu?

Apa saja kriteria dari hadits-hadits tersebut?

Apa saja klasifikasi dari hadits-hadits tersebut?

Bagaimana keujjahan hadits-hadits tersebut?

Tujuan

Untuk mengetahui berbagai macam hadits dari sisi kualitas

Agar mengetahui pengertian dari hadits-hadits tersebut

Agar mengetahui kriteria dari hadits-hadits tersebut

Untuk mengetahui klasifikasi dari hadits-hadits tersebut

Untuk mengetahui bagaimana kehujjahan hadits-hadits tesebut

Pengertian Hadits yang Shahih

Dalam istilah, hadits shahih merupakan hadits yang diriwayatkan oleh rawi-rawi yang adil, sempurna ingatannya, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber-‘illat, dan tidak janggal. Adapun mengenai definisi lainnya yang disebutkan oleh Al Suyuthi: “Hadits yang bersamung sanadnya, diriwayatkan oleh perawi yang adil lagi dhabit, tidak syaz, dan tidak ber’illat”.

Syarat Hadits Shahih

1. Rawinya Bersifat Adil

Menurut Ar Razi, keadilan merupakan tenaga jiwa yang mendorong utuk selalu bertindak takwa, menjauhi dosa-dosa besar, menjauhi kebiasaan melakukan dosa-dosa kecil, dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang mubah yang menodai muru’ah, seperti makan / minum sambil berdiri, buang air kecil di tempat yang sembarangan, bercanda yang berlebihan, dan lain sebagainya. Adapun menurut Syuhudi Ismail mengenai kriteria periwayat yang bersifat adil diantaranya adalah, beragama Islam, berstatus mukalaf, melaksanakan ketentuan agama, dan memelihara muru’ah.

2. Rawinya Bersifat Dhabit

Dhabit yang menunjukkan rawi yang bersangkutan agar bisa menguasai haditsnya denganbaik, entah itu dengan hafalan yang kuat maupun dengan kitabnya. Kemudian mereka mampu mengungkakan kembali ketika meriwayatkannya. Jika seseorang memiliki ingatan yang kuat sejak menerima hingga menyampaikan kepada orang lain, dan ingatannya itu sanggup diuraikan kapan saja, maka orang tersebut dinamakan dengan shadri. Sedangkan jika apa yang disampaikannya itu berdasarkan dari buku catatan, maka orang tersebut dinamakan dhabtu kitab sementara rawi yang adil sekaligus dhabit disebut tsiqah.

Baca Juga : MENGENAL AJARAN AGAMA ISLAM SESUAI AL-QURAN, HADIST, DAN IJTIHAD

3. Sanad-nya Bersambung

Maksud dari ketersambungan sanad itu adalah bahwa setiap rawi hadits yang bersangkutan benar-benar menerimanya diari rawi yang berada di atasnya, dan begitu selanjutnya hingga sampai kepada pembicara yang pertama. Intinya, suatu sanad hadits bisa dinyatakan bersambung apabila:

-Seluruh rawi dalam sanad itu benar-benar tsiqat (adil dan dhabit)

-Antara masing-masing rawi dengan rawi terdekat sebelumnya dalam sanad itu benar-benar telah terjadi hubungan periwayatan hadits sacara sah menurut ketentuan tahamul wa ada al hadits

Tidak Ber-illat

Maksudnya bahwa hadits yang berkaitan terbebas dari catat keshahihannya, yaitu hadits itu terbebas dari sifat samar-samat yang membuatnya cacat, meski tampak bahwa hadits tersebut tidak menunjukkan adanya kecacatan. 

Tidak Syadz (Janggal)

Kejanggalan sebuah hadits terletak pada adanya perlawanan antara suatu hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang maqbul (yang dapat diterima periwayatannya) dengan hadtis yang dirirwayatkan oleh rawi yang rajah (lebih kuat) daripadanya, dikarenakan kelebihan jumlah sanad dalam ke-dhabitan atau adanya segi-segi tarjih yang lain. 

Sumber-sumber Hadits Shahih

Al-Muwaththa adalah kitab hadits yang pertama disusun oleh Imam Malik (93- 179H/712 – 798 M).

Al-Jami’ As-Shahih Al-Bukhari merupakan kitab hadits terbaik yang disusun oleh Imam Abu Abdullah Muhammad Ibn Ismail Ibn Ibrahim Al-Mughribah Ibn Birdizah (194-257 H).

Shahih Muslim merupakan kitab hadits shahih yang menempati posisi ke dua setelah shahih Bukhari, yang disusun oleh Imam Muslim Ibn Al-Hajal Al-Quraisy An-Nasisabury (206-261H). 

Shahih Ibn Huzaimah adalah kitab hadits shahih yang disusun oleh Abu Abdullah Ibn Abu Bakar Al-Huzaimah yang wafat pada 313, dimana kitab tersebut menghasilkan kitab hadits yang belum di-cover dalam kitab Al-Bukhari.

Shahih Ibn-Hibban merupakan kitab shahih yang ditulis oleh Abu Hatim Muhammad Ibn-Hibban (354 H).

Klasifikasi Hadits Shahih

Shahih Li dzatihi, yakni hadits yang memenuhi persyaratan atau sifat-sifat hadits maqbul secara sempurna, yaitu syarat-syarat yang lima sebagaiaman contohnya: “Bukhari berkata, “Abdullah bin Yusuf telah menceritakan kepada kami bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apabila mereka bertiga, janganlah dua orang berbisik tanpa ikut serta rang ketiga.” (H.R Bukhari).

Hadits tersebut diterima oleh Bukhari dari Abdullah bin Yusuf menerima dari Malik, Malik menerimanya dari Nafi, Nafi menerimanya dari Abdullah, dan Abdullah itulah merupakan sahabat Nabi yang mendengar Rasulullah SAW bersabda seperti tadi.  Semua nama-nama diatas tadi, mulai dari Bukhari sampai Abdullah (sahabat) adalah rawi-rawi yang adil, dzabit, dan benar-benar tersambung. Tidak ada cacat, baik dari segi sanad maupun matan. Dengan kata lain, hadits diatas tadi termasuk hadits shahih li zatih. 

– Shahih Li Ghairihi, merupakan hadits dibawah tingkatan shaih yang menjadi hadits shahih karena diperkuat oleh hadits-hadits lain. Jika sekiranya hadits memperkuat tersebut tidak ada, maka hadits tadi hanya berada pada tingkatan hadits Hasan. Pada hakekatnya, hadits shahih li lizatih ini adalah hadits hasan. (hadits Hasan karena dirinya sendiri). Adapun contoh dari hadits hasan li dzatih yang naik derajatnya menjadi hadits shahih li ghairih: “Andaikan tidak memberatkan pada umatku, niscaya akan kuperintahkan bersiwak pada setiap kali hendak melaksanakan shalat”. (H.R Bukhari dan Turmudzi).

Kehujjahan Hadits Shahih

Ibnu Hazm al-Dhahiri telah menetapkan bahwa hadits shahih memfaedahkan ilmu qath’i dan wajib diyakini, sehingga hadits shaih dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan suatu akidah. Perlu kalian ketahui juga, bahwa martabat hadits shahih ini tergantung dari kedhabitan dan keadilan perawinya. Semakin dhabit dan adil, maka akan semakin tinggi juga tingkatan kualitas hadits yang diriwayatkannya. 

Dengan kata lain, hadits shahih merupakan sumber ajaran Islam lebih tinggi kedudukannya dari hadits hasn dan dho’if, namun berada di bawah kedudukan hadits mutawatir. Semua ulama pun telah bersepakat, jika hadits shahih sebagai sumber ajaran Islam atau hujjah dalam bidang hukum dan moral.

begitulah pemahaman mengenai ajaran islam yang sesuai dengan hadist.

Baca Juga : 3 Makna Asmaul Husna Beserta Artinya dalam Kehidupan, Wajib Tahu!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *